Melek Media Sebagai Agenda Komunikasi Dakwah

Melek Media Sebagai Agenda Komunikasi Dakwah

Dalam menggunakan media komunikasi (khususnya: media massa), komunikator dakwah perlu mendalami secara tepat posisi dirinya, apakah sebagai aktivis komunikasi dakwah, atau sebagai agen yang mensosialisasikan berbagai pemikiran dan gagasan. Untuk itu, ia perlu melakukan dua hal, (1) memahami spesifikasi media massa, dan (2) memberikan pemahaman spesifikasi media massa kepada masyarakat awam. Dua hal tersebut dilakukan secara baik oleh komunikator dakwah dalam upaya profesi dakwahnya dan memberikan pelayanan kepada audiens (komunikan-nya). Semua dilakukan dengan bijak untuk memberikan dedikasi kepada jemaahnya yang selalu berkembang dengan cepat.Maka dari itu kita harus melek media sebagai agenda komunikasi dakwah kita.

media sebagai agenda komunikasi dakwah

Selain dituntut untuk mendalami ajaran agama dengan baik, komunikator dakwah juga dituntut untuk menguasai secara terampil berbagai sarana informasi. Dengan pengetahuan yang mendalam tentang spesifikasi media massa atau teknologi informasi lainnya, komunikator dapat menjelaskan kepada masyarakat bahwa piranti komunikasi tersebut dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat bila dipergunakan secara benar. Namun pada kenyataannya banyak pula yang menyalahgunakan teknologi tersebut dan hanya dipergunakan untuk mengahbiskan waktu.

Penjelasan menyangkut maslahat dan madorot teknologi tetap dalam bingkay ayat-ayat Al-Quran pada tema yang terkait, dimana Islam mengajarkan akan pentingnya melakukan pekerjaan yang berguna bagi kehidupan dan menjauhkan perilaku boros. Jadi, dipaparkan terlebih dahulu tentang iman, amal saleh dan pekerjaan yang berguna. Kemudian dijelaskan tentang perilaku boros, sia-sia dan mubazir. Dalam runtut logika seperti itu, penjelasan tentang pentingnya menggunakan teknologi komunikasi secara produktif dan bermanfaat menjadi suatu keniscayaan. Bila tidak cermat menggunakan media komunikasi modern, generasi muda Indonesia akan banyak mempergunakan media itu hanya sebagai sarana mencari hiburan karena tekanan hidup yang mulai berat. Merujuk pada pemikiran Shindunata (1994) menyatakan bahwa pendidikan melek media mengajak orang untuk:

  1. memahami bahwa apa yang disajikan dalam media bukanlah realita secara lahiriyah dan apa adanya. Media mengolah dan memproduksikan realita itu dengan tujuan tertentu. Jadi, media adalah suatu kontruksi tentang realitas, dan konstruksi itu ditentukan oleh berbagai determinan.
  2. Membimbing agar warga tahu bahwa media adalah salah satu sarana untuk menginterpretasikan realitas. Banyak hal ikut menentukan isi dari interpretasi itu. Warga tidak perlu mempelajari kekeliruan interpretasi itu, tetapi memperkaya diri dengan kebenaran interpretasi itu.
  3. Tidak menjadi penerima yang pasif, tetapi menjadi penentu yang aktif bagi apa yang diterimanya lewat media.
  4. Menyadari bahwa media juga adalah bisnis yang berorientasi pada profit. Jadi, produk media didasari oleh kepentingan ekonomis dari mereka yang memilikinya.
  5. Kritis terhadap implikasi-implikasi ideologis serta sistem-sistem nilai yang terkandung dalam media sehingga ia terkait dengan iklan.
  6. Perlu memerhatikan tesis Marshall McLuhan, the medium is the message. Menurut tesis ini, mediumlah yang menentukan isi pesan.

Baca juga : Bijak Bermedia Sosial, Kicaumu Harimaumu!

Kehidupan dunia diliputi oleh berbagai kesenangan yang memesona. Banyak perbuatan yang hakikatnya tidak baik, tetapi dikemas secara baik sehingga menawan dan memesona (QS. 10:12). Apabila seseorang terbiasa berkecimpung dalam kehidupan yang tidak baik, ia akan sulit membedakan kebaikan dan kejelekan. Ia terbelenggu dalam kekeliruan karena hatinya sudah lalai (QS. 21:3). Bila tidak memahami hakikat kehidupan, kita kan melupakan tujuan hidup, akhirat yang jauh lebih panjang dan abadi.

Sumber:

Saiful Ma`arif Bambang. 2010. KOMUNIKASI DAKWAH Paradigma Untuk Aksi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *