Muslimah Memakai Celana Panjang, Bolehkah?

Muslimah Memakai Celana Panjang, Bolehkah?

Muslimah memakai celana panjang bukan lagi menjadi pemandangan asing di tengah masyarakat. Seolah saat ini hal tersebut menjadi trend baru yang menjadi simbol wanita modern dan gaul tapi masih terlihat islami (alasan banyak orang). Sehingga akhirnya mereka memakai celana panjang tanpa ditutup dengan baju kurung atau rok sudah merasa berpakaian islami.

muslimah memakai celana panjang

Padahal sudah diketahui bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Itu berarti  kaki dan betis wanita adalah aurat yang harus ditutupi. Maka seorang muslimah haruslah mengikuti tuntunan islam dalam hal berpakaian yaitu menutup seluruh tubuh kecuali ejah dan tangan, berpakaia tebal, hendaknya longgar dan tidak sempit, pakaian yang dipakai tidak menyerupai pria, tidak menyerupai wanita kafir. Maka tuntunan islam dalam berpakaian sudah dilanggar oleh mereka diluar sana yang menggunakan celana panjang, kare menyerupai pria.

Tentang larangan wanita menyerupai pakaian pria di antara contohnya adalah memakai celana panjang. Pakaian tersebut menyerupai pakaian laki-laki dan terlarang berdasarkan hadits berikut,

Rasulullah Saw. melaknat laki-laki yang berpakaian wanita dan wanita yang berpakaian laki-laki.” (HR Ahmad no. 8309, 14: 61. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, perowinya tsiqoh termasuk perowi Bukhari Muslim selain Suhail bin Abi Sholih yang termasuk perowi Muslim saja)

Syaikh Abu Malik -semoga Allah senantiasa menjaga beliau dalam kebaikan-, penulis kitab Shahih Fiqh Sunnah berkata, “Patokan Nabi Saw. melarang saling tasyabbuh (menyerupai) satu dan lainnya bukan hanya kembali pada apa yang dipilih, disukai dan dijadikan kebiasaan wanita dan pria. Namun hal ini kembali pula pada maslahat pria maupun wanita. Yang maslahat bagi wanita adalah yang sesuai dengan yang diperintahkan yaitu wanita diperintahkan untuk menutupi diri tanpa boleh tabarruj atau menampakkan perhiasan diri. Jadi dalam larangan berpakaian pada wanita ada dua tujuan: (1) membedakan pria dan wanita, (2) menutupi diri wanita secara sempurna. Kedua maksud (tujuan) ini harus tercapai.” (Shahih Fiqh Sunnah, 3: 36).

Di halaman lain, Syaikh Abu Malik berkata, “Memakai celana panjang adalah sejelek-jelek musibah yang menimpa banyak wanita saat ini, semoga Allah memberi petunjuk pada mereka. Walaupun celana tersebut bisa menutupi aurat, namun ia bisa tetap menggoda dan membangkitkan syahwat, apalagi jika celana tersebut sampai bercorak. Sebagaimana telah diketahui bahwa di antara syarat jilbab syar’i adalah tidak sempit atau tidak membentuk lekuk tubuh. Sedangkan celana panjang sendiri adalah di antara pakaian yang mengundang syahwat, bahkan kadang celana tersebut sampai terlalu ketat. Ada juga celana yang warnanya seperti warna kulit sampai dikira wanita tidak memakai celana sama sekali. Ini sungguh perilaku yang tidak dibenarkan namun sudah tersebar luas. Oleh karena itu, tidak diperkenankan muslimah memakai celana panjang.

Jadi tidak cukup wanita itu menutup rambut dan kepalanya saja, juga harus menutupi aurat dengan sempurna. Termasuk didalamnya adalah tidak memakai pakaian ketat atau pakaian yang masih membentuk lekuk tubuh.

Baca juga : Zainab Khuzaimah : Ibu dari Orang-Orang Miskin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *